Aku tak tau apa yang kurasakan sekarang, mungkin syndrome ini juga pernah dirasakan oleh orang-orang sebelum aku. ‘Syndrome tak tahu harus berbuat apa’ aku sama sekali berbeda dengan tokoh Ikal dalam laskar pelangi yang sudah tahu cita-citanya mulai dari dia kecil. Padahal aku sudah melewati semester tujuh dan sekarang sedang menginjak semester delapan untuk mendapatkan sebuah gelar yang akan menjadi kebanggaan orang tuaku, S1. Mungkin aku juga sedang dihinggapi ‘syndrome stress sebelum memulai’ karena ayahku terus saja mendesakku untuk mengerjakan skripsiku tiap hari, tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik yang dia ingat!
Aku bahkan tak ingat lagi apa cita-citaku sebenarnya. Seingatku dulu aku pernah ingin jadi guru SD dan dokter. Guru SD adalah sosok mulia di dalam ingatanku, karena dia mampu memahami tingkah kami yang aneh-aneh, mengajari kami sampai kami pintar dan berebut untuk mendapat ranking 1 dengan berbagai cara. Meski seperti biasanya aku selalu dikalahkan oleh teman sekelasku, yang sejak TK telah menjadi musuh bebuyutanku. Aku hanya bisa tersenyum bangga dan pamer nilai pada orang tuaku SEKALI dalam sejarah hidupku karena aku bisa ranking 1. Itupun bukan karena aku mampu mengalahkan musuh bebuyutanku, melainkan karena aku beda kelas dengan dia. Murid pada angkatanku lebih bayak dari angkatan lain, jadi terpaksa kami dibagi menjadi 2 kelas, dia di kelas A dan aku di kelas B.
Lambat laun ternyata aku ingin jadi dokter karena aku lihat dokter begitu hebat bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk penyakit Typus yang sudah ku derita selama sebulan lebih, juga ketika dokter menyembuhkan sakit mencretku dengan obat rasa jeruknya (karena dokter tahu bahwa aku tak mau minum obat selain sirup dan rasanya harus manis!). Dokter begitu mulia karena kepintaran dan kesediaannya untuk ditempatkan di desa kami yang pelosok, yang dulu hanya ditangani oleh mantri desa.
Lalu aku ingin jadi arsitek, membuat gedung-gedung indah nan megah. Setelah itu ingin jadi arkeolog yang baru ku tahu profesi itu ketika aku menginjak bangku SMP. Bagiku arkeolog juga hebat karena dengan penemuan-penemuannya dia bisa memberikan namanya pada benda-benda purba yang ditemukannya. Tapi setelah diadakan pameran lukisan di sekolahku, aku merubah lagi cita-citaku ingin menjadi pelukis. Teman-teman karibku hanya tersenyum mendengar ocehanku karena sudah berulang kali kuceritakan pada mereka yang tentang cita-citaku yang banyak itu. Salah satu dari mereka hanya bilang, “Semoga cita-citamu kali ini tak berubah lagi.” Sedangkan temanku yang lain berebutan memiliki 3 lukisanku, padahal menurutku lukisan itu begitu buruk perpaduan warnaya, lukisan burungnya tak bisa di definisikan masuk jenis burung apa, bahkan salah satu lukisan itu aku contoh dari kalender di rumah nenek dengan sedikit modifikasi.
Saat aku SMA aku bahkan tak tahu apalagi cita-citaku. Saat itu hobbyku membaca bertambah giat, apalagi yang berbau sastra, Majalah Horison menjadi bacaan wajibku kalau akau ke perpustakaan. Aku ingat bahkan aku meminjam buku Siti Nurbaya dan Salah Asuhan karena begitu tertarik dengan gaya bahasa orang jaman dulu. “Im, mungkin aku ingin jadi penulis!” kataku dengan mantap. Dan tergelaklah teman karibku itu, mengulang kembali deretan cita-citaku yang selalu berubah.
Aku begitu bahagia waktu keluar kelas setelah diadakan tes IQ, serasa menemukan cahaya terang, aku segera bertanya pada sobatku, “Apa cita-cita yang kamu tulis tadi Im?” Dan sobatku yang pendiam itupun berkata dengan manisnya kalau dia ingin jadi Insinyur. Lalu dengan bangga aku berkata “Aku ingin jadi wartawan” Seketika sobatku langsung memalingkan wajahnya padaku dan menatapku aneh, lalu ia berkata “Mungkin itu cocok dengan hobbymu yang suka main, suka ngoceh dan ingin tahu segala sesuatu itu” Ha ha inilah saat-saat yang aku tunggu, saat sobatku itu mendukungku dengan kata-kata bukan hanya dengan senyuman dan gelengan kepala.
Aku memutuskan masuk jurusan Bahasa waktu waktu menginjak kelas tiga dengan dipenuhi sorot kebencian teman-teman sekelasku, karena bagi mereka aku adalah penghianat karena tak mau masuk jurusan IPA. Memang waktu itu anak-anak di kelasku tergolong sangat pintar (kecuali aku) karena hanya lima anak yang tidak mau masuk jurusan IPA dan hanya 2 anak yang memang tak bisa masuk karena nilai mata pelajaran eksaknya yang kurang. Ya, aku dimusuhi bukan karena nilaiku yang tak memenuhi syarat untuk masuk IPA, tapi justru karena aku sendiri yang bersikeras masuk jurusan alien itu. Ku sebut jurusan alien karena nilai bahasa Inggrisku tidak jauh dari angka 7-8.
Teman-teman terus mendesakku, hingga aku harus melarikan diri dan aku hanya bisa berkata bahwa aku benci angka dan aku suka bahasa, aku suka sastra dan aku ingin jadi sastrawan. Kali ini sobat karibku yang mendengar kata-kataku hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata,”Terserah padamulah!” Akupun hanya bisa meringis karena menyadari cita-citaku yang berubah lagi, dan dalam hati aku berucap terimakasih sobat karena kau begitu sabar dan masih mau menjadi sahabatku.
Waktu menginjak bangku kuliah akupun berusaha membulatkan tekad untuk menjadi seorang guru, ya...guru lagi, guru bahasa Jerman. Cita-citaku ini karena aku merasa kasihan melihat guru SMAku yang mulai renta dan masih saja kami jahili dan terkadang kami acuhkan. Kesabaran beliau membimbing kami, bahkan sampai menangisi kami sebagai anak didiknya karena kami tak pernah masuk les. Aku ingin membantu dan menemani beliau mengajar di sekolah kami yang udik itu.
Tapi saat masa PPL, aku semakin mengerti bahwa tugas guru sangatlah berat hingga aku rasanya ingin menangis karena merasa tak sanggup. Tekanan Kepala Sekolah, Guru Pamong, Dosen Pembimbing, Dewan Guru, Rekan PPL belum lagi tingkah anak-anak SMA yang semakin menggila dan tugas mengajar serta tugas akhir yang semakin menumpuk, aku merasa amat menyesal karena dulu pernah mengacuhkan guru terbaikku itu. Tanpa pikir panjang segera kucari buku kenagan kelasku dan segera menelfon wali kelasku itu. Masih kuingat, dengan suaranya yang lembut beliau menenangkan aku dan memberiku dorongan semangat, hanya dengan kata-kata “Ya gitu itu tingkah anak SMA, maju terus ya...”
Menginjak semester akhir kuliahku aku ingin ganti cita-cita lagi karena aku sudah mentok, tak sanggup jadi guru. Aku ingin jadi guide atau penerjemah. Alangkah enaknya jadi guide, selain bisa main kemana-mana, dapat uang pula! Kalau jadi penerjemah lain lagi ceritanya, itu hanya karena aku suka membaca dan pekerjaan itu bisa dilakukan tanpa harus pergi ke kantor. Bagaimanapun juga aku harus mempertimbangkan kewajibanku kelak sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Namun aku masih merasa hampa. Aku merasa kosong. Tak tau harus kemana dan apa yang harus aku lakukan. Hingga sekarang aku disini, di depan laptopku dan mulai mengetik cerita ini....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar